Jadi, hari ini aku dan teman-teman
mengikuti sebuah simposium kesehatan bertajuk “Anti Microbial Resistance
Symposium” atau cukup disingkat
dengan AMRS. Kalau diterjemahin secara bebas dalam bahasa kita, AMRS itu
simposium mengenai resistensi (kekebalan) bakteri terhadap antibiotik. Nah,
antibiotik itu apa sih? Menurutku sih, secara sederhana, antibiotik itu
obat-obatan khusus untuk menghambat pertumbuhan bakteri atau makhluk hidup lain
yang menyebabkan penyakit dalam tubuh kita. Kok kayaknya ribet banget ya, belum
paham deh apa itu antibiotik, mm, gini aja deh, teman-teman pernah ke dokter
kan? Pernah dapat obat tablet biasanya bungkusnya warna silver, terus ada
tulisannya Amoxicilin? Nah itu dia antibiotik. Selain antibiotik Amoxicilin,
ada banyak lagi jenis antibiotik di pasaran misalnya Chloramphenicol, tetracyclin
dll. Dan sekarang ini, dalam dunia medis sudah sangat luas dikenal permasalahan
mengenai penggunaan antibiotik ini. Tahukan teman-teman, kalau konsumsi
antibiotik terlalu banyak justru tak ada manfaatnya? Jelas, karena bakteri di
dalam tubuh justru akan terbiasa dengan antibiotik itu, sehingga lama kelamaan
menganggap antibiotik seolah ‘teman’
mereka. Efeknya, penyakitpun lama masa pengobatannya, bahkan bisa gagal, dan
pada kasus-kasus tertentu menyebabkan kematian. Ada pasien penderita kanker
meninggal karena infeksi bakteri, bukan karena virus kankernya. Karena
bakterinya sudah resisten (kebal) oleh antibiotik apapun, infeksi pun semakin
parah, dan menyebabkan kematian. Nah lho, serem kan? Meski kita juga wajib
percaya bahwa hanya Allah SWT. penentu ajal, tapi masalah-masalah seperti ini
harus mendapat perhatian kita.
Melalui catatan kecil ini, aku ingin
share pengetahuan tentang penggunaan antibiotik yang tepat dan rasional ke teman- teman semua. Yang sudah tahu,
tolong koreksi jika aku ada salah, sekaligus boleh ditambah :D yang belum tahu,
semoga catatan ini bermanfaat ya. So, check this out.
1. Jangan mudah
meminta obat ke dokter, terutama jika hanya sakit ringan, semisal flu dan
batuk.
Untuk kasus seperti ini, sudah terjadi kesalahan persepsi secara umum
dalam masyarakat kita. Kebanyakan orang berpikir, pergi ke dokter itu harus
pulang dengan obat di tangan, dimana salah satu dari jenis obat yang diresepkan
dokter tersebut pasti ada antibiotiknya, padahal justru terlalu sering
mengkonsumsi antibiotik akan membuat bakteri semakin kebal. Bandingkan dengan
negara-negara Eropa, dimana kebanyakan dokter ‘pelit’ memberi obat.
2. Jika diberi
antibiotik oleh dokter, wajib dihabiskan, agar pengobatan berjalan dengan
tuntas dan efektif.
3. Biasanya kita
diberi dosis minum antibiotik adalah 3 kali sehari.
Lazimnya di masyarakat, minum
antibiotik itu pertama kali jam 7 setelah sarapan, kemudian jam 12 ketika makan
siang, dan jam 7 malam ketika makan malam. Ini adalah pola yang SALAH.
Seharusnya, SELISIH antar waktu minum obat adalah 8 JAM, agar kadar zat di
dalam darah seimbang sehingga antibiotik bisa memberi efek yang diharapkan.
4. Pasien harus
‘cerdas’. Jangan malu bertanya tentang penyakit kita dan sebabnya. Misalkan
diare, tanyakan apakah itu diare non spesifik (bisa gara-gara salah makan) atau
spesifik (gara-gara bakteri). Kalau diketahui diare kita masih didignosa
sebagai diare non spesifik, jangan minta antibiotik ya. Begitu juga berlaku
untuk penyakit-penyakit yang tidak disebabkan makhluk hidup (bakteri).
Menurutku cukup ini yang harus diketahui jika kita berada di posisi
pasien. Sedangkan untuk teman-teman kedokteran dan farmasi, tentunya harus jauh
lebih paham, karena posisi teman-teman kedokteran dan farmasi adalah
stakeholder dari masalah resistansi antibiotik.
Semoga catatan ini bermanfaat yaa :D wabillahittaufiq.
05
Mei 2012, Kamar 507, 22:01
Menulis, menulis, dan menulis.. :)
BalasHapusmana tulisan yang lain neng?.. . :D
BalasHapus